Geofisika & Geohazard
Survei Mineral Laut Dalam: Ladang Nodul dan Ventilasi Hidrotermal Butuh Dua Pendekatan yang Sama Sekali Berbeda
Eksplorasi mineral laut dalam sering dibicarakan sebagai satu industri tunggal, padahal sebenarnya ini dua pekerjaan survei yang hampir tidak berkaitan satu sama lain. Nodul polimetalik tersebar tipis di dataran abisal yang luas dan rata, pada kedalaman 4.000 sampai 6.000 meter — nilai sumber dayanya ditentukan oleh abundansi per meter persegi di area yang sangat luas. Sulfida masif dasar laut justru sebaliknya: terkonsentrasi rapat di sekitar ventilasi hidrotermal aktif, hanya beberapa ratus meter lebarnya, tapi kadarnya luar biasa tinggi. Menyurvei yang pertama adalah soal pemetaan regional; menyurvei yang kedua lebih mendekati pengeboran eksplorasi. Instrumennya bisa saling tumpang tindih, tapi strategi di baliknya sama sekali berbeda.
Ditemukan 1873, Baru Dianggap Berharga Satu Abad Kemudian
Nodul mangan pertama kali diangkat dari dasar laut pada 18 Februari 1873, sekitar 300 kilometer di barat daya Kepulauan Canary, selama pelayaran HMS Challenger — ekspedisi yang pada dasarnya meletakkan fondasi oseanografi modern. John Murray, naturalis dan spesialis sedimen ekspedisi itu, kemudian ikut menulis laporan tahun 1891 yang mendeskripsikan nodul-nodul tersebut. Namun hampir satu abad lamanya, nodul ini cuma dianggap keingintahuan ilmiah, bukan target sumber daya. Keadaan berubah pada 1970, ketika Deepsea Ventures Inc. melakukan upaya pertama menambangnya secara komersial, mengangkat nodul dari kedalaman 800 meter di Blake Plateau lepas pantai Florida lewat sistem airlift. Pada musim panas 1978, tiga konsorsium uji tambang percontohan internasional — yang paling menonjol Ocean Management Incorporated, dan secara terpisah Ocean Mining Associates dengan kapalnya Deepsea Miner II — sudah membuktikan pengangkatan nodul dari Clarion-Clipperton Zone pada kedalaman sekitar 4.500 meter, dengan Deepsea Miner II dilaporkan mencapai kapasitas rancangannya sebesar 50 ton nodul per jam. Tidak satu pun proyek tahun 1970-an ini akhirnya layak secara komersial, tapi semuanya membuktikan bahwa rekayasa dasarnya memang bisa dilakukan — jauh sebelum kerangka regulasi dan lingkungan yang dibutuhkan untuk benar-benar mengizinkannya itu ada.
Menyurvei Sumber Daya yang Justru Didefinisikan oleh Ketidakrataannya
International Seabed Authority (ISA), dibentuk pada 1994 di bawah UN Convention on the Law of the Sea, kini mengelola kontrak eksplorasi seluas 75.000 km² untuk masing-masing ladang nodul, sebagian besar terkonsentrasi di Clarion-Clipperton Zone (CCZ) antara Hawaii dan Meksiko. Yang sebenarnya ingin dijawab sebuah survei di sana adalah abundansi nodul — massa nodul per meter persegi dasar laut — karena angka ini bisa berubah drastis dan tidak menentu hanya dalam jarak pendek. Lahan CCZ bergrade sumber daya bisa mencatat abundansi terukur sekitar 12,8 kg/m² dengan kadar kira-kira 1,30% nikel, 0,20% kobalt, 1,2% tembaga, dan 30,2% mangan, tapi abundansi di seluruh CCZ berkisar dari serendah 1,5–3 kg/m² di selatan sampai 7,5 kg/m² di timur — artinya grid survei harus cukup padat untuk mencirikan ketidakrataan itu, bukan sekadar memastikan nodulnya ada.
Dalam praktiknya, ini berarti menumpuk tiga jenis data: multibeam echosounder dan side-scan sonar dari kapal untuk batimetri dan backscatter regional, lalu multibeam resolusi tinggi dan synthetic-aperture sonar yang dibawa AUV untuk tekstur yang lebih halus, dan terakhir fotografi dasar laut — AUV diterbangkan pada altitude sekitar 3 meter dan kecepatan 1,2 m/s, memotret setiap 850 milidetik, dengan setiap frame mencitrakan sekitar 1,7 m² dasar laut. Karena metode ini menghasilkan jumlah gambar yang sangat besar bahkan untuk area survei yang sedang-sedang saja, penilaian cakupan nodul belakangan ini makin sering menyerahkan tahap klasifikasinya ke deep convolutional neural network yang dilatih memisahkan nodul dari sedimen kosong dan mengestimasi persentase cakupan secara otomatis, bukan lewat tinjauan gambar manual.
Studi Kasus: Apa yang Sebenarnya Diukur Dua Uji Coba Collector Nodul
Dua uji coba percontohan belakangan ini menunjukkan betapa "survei" nodul modern kini hampir tidak terpisahkan dari pemantauan lingkungan. Pada April 2021, kontraktor Belgia Global Sea Mineral Resources (GSR) mengoperasikan wahana collector Patania II di dasar laut CCZ pada kedalaman sekitar 4.500 meter selama kurang lebih 50 jam — uji coba yang sempat diberitakan luas karena robotnya terdampar sementara — sementara ilmuwan dari 29 institut riset Eropa, bekerja bersama pemegang kontrak Jerman BGR, secara independen memantau perilaku sedimen plume dan gangguan dasar laut secara paralel. Setahun berikutnya, anak perusahaan The Metals Company, NORI, bekerja sama dengan Allseas menguji prototipe wahana collector yang mengalirkan nodul lewat riser menuju kapal permukaan Hidden Gem, mengangkat lebih dari 3.000 ton nodul ke permukaan dari area eksplorasi NORI-D. Di sekitar satu ladang uji seluas 4 km × 2 km itu saja, lebih dari 50 sensor dan aset pemantauan dipasang, dan spesialis sedimentasi DHI Water and Environment membangun model dispersal plume terverifikasi dari dataset yang dihasilkan — menyimpulkan bahwa plume sedimen tetap berada dekat dasar laut dan bentuknya lebih dipengaruhi topografi dasar laut ketimbang arus ambien. Pada kedua kasus ini, "survei" terus berlanjut jauh melewati momen nodul terangkat dari dasar laut.
Persoalan Sebaliknya: Mencari Deposit Kecil tapi Kaya di Sebuah Ventilasi
Deposit sulfida masif dasar laut (seafloor massive sulfide, SMS) terbentuk ketika fluida super panas berkadar logam tinggi keluar dari dasar laut di sistem hidrotermal aktif, lalu mineral sulfidanya mengendap begitu bersentuhan dengan air laut yang dingin — inilah plume "black smoker" yang pertama kali dikarakterisasi secara detail dari kapal selam riset pada 1970-an dan 1980-an. Deposit prospektif yang paling banyak diteliti, Solwara 1 di Laut Bismarck lepas pantai Papua New Guinea, terletak di lereng gunung vulkanik bawah laut pada kedalaman sekitar 1.600 meter dan hanya mencakup sekitar 0,112 km² — tiga hingga empat orde magnitudo lebih kecil dibanding area lisensi nodul CCZ. Tapi kadarnyalah yang membuat lokasi ini menarik bagi surveyor: kadar tembaga rata-rata sekitar 7%, kira-kira sepuluh kali lipat tambang tembaga porfiri berbasis darat pada umumnya, dengan hasil assay pengeboran dasar laut individual mencapai 37,7% tembaga dan 20,8 g/t emas, sementara kadar emas rata-rata di seluruh sumber daya berada sekitar 6 g/t, untuk sumber daya terindikasi sebesar 0,87 juta ton dan sumber daya tereka sebesar 1,3 juta ton.
Karena deposit SMS berukuran kecil, bertepi curam, dan secara kimiawi berbeda jelas dari dasar laut di sekitarnya, perangkat survei yang dipakai bergeser ke arah presisi, bukan cakupan luas. Batimetri multibeam regional dan side-scan sonar yang ditarik dalam-dalam lebih dulu menyaring kandidat ladang ventilasi lewat morfologi mound dan sinyal backscatter yang khas; ROV kemudian mengambil alih untuk sampling jarak dekat dengan dredge dan bor batuan, tepat seperti yang dilakukan sepanjang kampanye pengeboran sumber daya yang menetapkan kadar dan tonase Solwara 1. Satu metode geofisika yang relatif jarang dipakai pada survei nodul justru cocok khusus untuk ventilasi: survei self-potential laut, yang mengukur beda potensial listrik alami hasil reaksi redoks antara badan sulfida dan air laut, sehingga survei bisa membedakan akumulasi sulfida individual dari dasar laut yang teralterasi hidrotermal secara lebih luas di sekitarnya.
Dua Jenis Deposit, Dua Filosofi Survei
Nautilus Minerals, pemegang lisensi tambang Solwara 1, kolaps secara finansial pada 2019 sebelum ekstraksi sempat dimulai, dan lisensinya sejak itu berpindah tangan — pengingat bahwa kampanye survei yang berhasil secara teknis dan tambang yang berhasil secara komersial adalah dua pencapaian yang berbeda. Tapi kontras pendekatan survei ini tetap relevan lepas dari nasib proyek tersebut: eksplorasi nodul pada dasarnya adalah persoalan statistik yang dipecahkan lewat cakupan AUV dan klasifikasi gambar dalam skala sangat besar, sementara eksplorasi SMS pada dasarnya adalah persoalan penargetan yang dipecahkan lewat reconnaissance akustik resolusi tinggi yang dipersempit sampai presisi siap-bor. Kontraktor survei mana pun yang berpindah dari satu jenis pekerjaan ke jenis lainnya tidak cuma harus mengganti instrumen, tapi juga seluruh logika tentang apa arti "data yang cukup."
References
- Natural History Museum, London / bioRxiv — Sir John Murray's H.M.S. Challenger Sedimentary Deposits Collection
- MDPI, Journal of Marine Science and Engineering — The Development History and Latest Progress of Deep-Sea Polymetallic Nodule Mining Technology
- International Seabed Authority — Polymetallic Nodules: Exploration Contracts
- International Seabed Authority — Polymetallic Nodules (ISA Deep Seabed Minerals brochure)
- DEME Group / GSR — Metal-Rich Nodules Collected From Seabed During Important Technology Trial
- The Metals Company (GlobeNewswire) — NORI and Allseas Lift Over 3,000 Tonnes of Polymetallic Nodules to Surface
- ResearchGate / OnePetro (OTC-21645-MS) — Resource Drilling of the Solwara 1 Seafloor Massive Sulfide (SMS) Deposit
- PMC / NCBI — Marine Self-Potential Survey for Exploring Seafloor Hydrothermal Ore Deposits
Artikel Terkait