Teknologi Survei Laut

Platform Survei Otonom dan Tanpa Awak: Melepas Kru dari Kapal

Instrumen survei laut membutuhkan wahana untuk bergerak di air. Jika dahulu industri ini sepenuhnya bergantung pada kapal berawak konvensional, tiga dekade terakhir mencatat pergeseran besar. Kehadiran autonomous underwater vehicle (AUV) dan uncrewed surface vessel (USV) kini mulai menggantikan peran manusia dalam melaksanakan misi operasional di laut.

Poin Utama: Lompatan teknologi otonom laut telah teruji secara ekstrem selama beberapa dekade. Sejarah mencatat Woods Hole Oceanographic Institution memelopori AUV REMUS pada tahun 1995, yang hanya dalam delapan tahun kemudian langsung diterjunkan dalam operasi tempur pembersihan ranjau di Teluk Persia. Di atas permukaan, kegilaan inovasi berlanjut saat Wave Glider "Papa Mau" milik Liquid Robotics menjadi kendaraan otonom pertama yang sukses menyeberangi Samudra Pasifik (2011–2012), disusul oleh Angkatan Laut AS yang meluncurkan USV berdaya jelajah raksasa Sea Hunter pada tahun 2016. Efisiensi komersial wahana otonom ini makin nyata lewat performa USV Maxlimer buatan SEA-KIT. Setelah menyabet gelar juara Shell Ocean Discovery XPRIZE 2018 berkat kesuksesannya memetakan 278 km² dasar laut Mediterania hanya dalam waktu 24 jam, USV ini kembali mengguncang industri pada tahun 2020. Maxlimer berhasil menuntaskan survei hidrografi seluas 1.000 km² di area tak terpetakan Samudra Atlantik lewat satu misi tunggal tanpa awak selama 22 hari nonstop. Walau demikian, penggunaan sistem otonom tetap memiliki kompromi (trade-off). Keuntungan berupa efisiensi biaya, ketahanan operasional, dan keselamatan kru harus diimbangi dengan kapasitas muatan (payload) yang terbatas, hambatan komunikasi data, serta minimnya keputusan manusia secara real-time di lapangan.
Dua peneliti bersiap meluncurkan AUV REMUS dari perahu kecil selama AUV Fest 2007
Gambar 1: Amy Kukulya dan Tom Austin dari Woods Hole Oceanographic Institution bersiap meluncurkan AUV REMUS selama AUV Fest 2007. Sumber: Angkatan Laut AS, Wikimedia Commons (Public Domain).

Dua Jenis Otonomi yang Berbeda

AUV dan USV memecahkan masalah yang berkaitan tapi berbeda. AUV beroperasi sepenuhnya di bawah air dan terputus dari sinyal GNSS untuk sebagian besar misinya, sehingga harus bernavigasi terutama lewat dead reckoning dan sensor inersia, hanya sesekali muncul ke permukaan atau melapor ke sistem positioning akustik untuk mengoreksi drift yang terakumulasi. USV, sebaliknya, tetap berada di permukaan sepanjang misinya, artinya ia terus punya akses ke positioning GNSS dan, biasanya, tautan komunikasi real-time atau mendekati real-time kembali ke darat—masalah navigasi yang jauh lebih mudah secara fundamental, meski kapalnya sendiri tetap harus menghadapi gelombang, cuaca, dan penghindaran tabrakan tanpa ada orang di kapal yang bisa langsung bereaksi terhadapnya.

Sejarah Singkat Menuju Tanpa Awak

Oceanographic Systems Lab milik Woods Hole Oceanographic Institution membangun AUV REMUS (Remote Environmental Monitoring UnitS) pertamanya pada 1995, merancangnya sebagai platform berbentuk torpedo berbiaya rendah yang cukup sederhana untuk dijalankan dari laptop, awalnya ditujukan untuk pekerjaan pemantauan pesisir. Desain ini terbukti cukup mumpuni sampai Angkatan Laut AS mengadopsinya untuk mine countermeasures, dan pada 2003, selama Operation Iraqi Freedom, kendaraan REMUS dipakai mendeteksi ranjau di pelabuhan Umm Qasr, Teluk Persia—membersihkan area berbahaya tanpa penyelam atau kapal berawak harus mencarinya secara langsung.

Di permukaan, Wave Glider milik Liquid Robotics, kendaraan yang digerakkan energi gelombang alih-alih motor, mencatatkan tonggak sejarah yang sangat berbeda. Sebagai bagian dari misi PacX perusahaan itu, sebuah Wave Glider bernama Papa Mau berangkat dari San Francisco Bay pada 2011 dan, setelah sekitar sebelas bulan berlayar menempuh kira-kira 9.000 mil laut serta selamat dari badai tengah laut sepanjang perjalanan, tiba di Australia pada November 2012—menjadikannya kendaraan otonom pertama yang pernah menyeberangi Samudra Pasifik, sementara kendaraan saudaranya mencatatkan Guinness World Record untuk perjalanan terpanjang oleh kendaraan permukaan otonom. Pada 2016, Angkatan Laut AS meluncurkan Sea Hunter, USV berlambung trimaran eksperimental yang dibangun untuk patroli anti-kapal-selam tanpa awak berdaya tahan panjang, diresmikan di Sungai Willamette, Portland, Oregon, pada April tahun itu.

Kapal permukaan tanpa awak Sea Hunter berlayar di Sungai Willamette setelah upacara peresmiannya tahun 2016
Gambar 2: Sea Hunter milik Angkatan Laut AS, USV eksperimental berdaya tahan panjang, berlayar di Sungai Willamette, Portland, Oregon, setelah upacara peresmiannya pada 7 April 2016. Sumber: John F. Williams, Angkatan Laut AS, Wikimedia Commons (Public Domain).

Platform Tanpa Awak yang Mengerjakan Hidrografi Hari Ini

Demonstrasi paling jelas bahwa platform tanpa awak kini bisa mengerjakan pekerjaan hidrografi yang serius datang dari Shell Ocean Discovery XPRIZE. Pada akhir 2018, GEBCO-NF Alumni Team memakai USV Maxlimer milik SEA-KIT sebagai kapal induk yang dikendalikan jarak jauh untuk menurunkan AUV HUGIN di lepas pantai Kalamata, Yunani, memetakan 278 kilometer persegi dasar laut Mediterania hanya dalam 24 jam untuk memenangkan kompetisi itu secara mutlak. Maxlimer kemudian mencatatkan serangkaian pencapaian pertama lainnya: pada Mei 2019, ia menyelesaikan apa yang disebut sebagai penyeberangan otonom komersial pertama Laut Utara, antara Inggris dan Belgia; pada Juli 2019, ia menurunkan dan mengambil kembali AUV HUGIN untuk pekerjaan inspeksi pipa Equinor, pertama kalinya peralatan inspeksi dikendalikan jarak jauh melampaui jarak pandang langsung; dan pada Juli 2020, ia berangkat dari Plymouth untuk misi tanpa awak 22 hari yang memetakan sekitar 1.000 kilometer persegi dasar laut yang sebelumnya belum terpetakan di baratdaya Inggris—persis jenis pemetaan batimetri skala besar yang jadi andalan inisiatif global seperti Seabed 2030.

Sebuah Saildrone mengapung dekat pelabuhan di Kepulauan Aleutian, Alaska
Gambar 3: Sebuah Saildrone, USV bertenaga angin dan surya, diambil kembali di Dutch Harbor, Alaska, setelah misi Arktik NOAA 2019. Sumber: NOAA / Saildrone, Wikimedia Commons (Public Domain).

Trade-Off yang Sesungguhnya

Tak satu pun dari ini membuat kapal survei berawak jadi usang. Apa yang dikorbankan platform tanpa awak demi biaya operasi lebih rendah, daya tahan lebih panjang, dan nol risiko personel dalam pekerjaan berbahaya seperti pembersihan ranjau itu nyata: AUV atau USV kecil membawa payload sensor yang jauh lebih terbatas dibanding kapal survei sesungguhnya, bandwidth komunikasi kembali ke darat jadi kendala sungguhan alih-alih sekadar renungan tambahan, dan tidak ada siapa pun di lokasi yang bisa memakai penilaian ketika sesuatu yang tak terduga terjadi dan tidak diantisipasi rencana misi yang sudah diprogram sebelumnya. Platform yang sudah terbukti diri—REMUS di ladang ranjau, Maxlimer di atas dasar laut yang belum terpetakan—berhasil di peran-peran tempat trade-off itu jelas layak diambil, bukan karena operasi tanpa awak secara universal lebih baik dibanding menaruh kru di kapal.

Kesimpulan

Lompatan teknologi maritim telah bergerak jauh, bertransformasi dari robot berbentuk torpedo berbasis kendali laptop pada tahun 1995, hingga menjelma menjadi armada USV tangguh yang mampu memetakan seribu kilometer persegi area buta laut dalam selama tiga minggu sendirian. Menariknya, revolusi ini sebenarnya bukan tentang perubahan sensornya. Mau dikemudikan oleh kapten kapal berpengalaman atau disetir oleh kecerdasan algoritma otonom, perangkat andalan seperti side-scan sonar, multibeam, hingga magnetometer tetap merekam data dengan cara fisis yang persis sama. Perubahan mendasar justru terletak pada hilangnya keharusan mengirim personel langsung ke tengah laut demi mengumpulkan data. Berkat tiga dekade pengembangan intensif AUV dan USV, jawaban untuk sebagian besar portofolio pekerjaan survei saat ini sudah bergeser secara mutlak: tidak perlu lagi.


Referensi

  1. Wikipedia — REMUS (vehicle); USV Maxlimer; Liquid Robotics
  2. Woods Hole Oceanographic Institution — REMUS
  3. Liquid Robotics — Liquid Robotics' Marine Robot Completes 9,000-Mile Cross-Pacific Journey
  4. IEEE Spectrum — Liquid Robotics' Wave Glider Completes Pacific Crossing
  5. Maritime Executive — SEA-KIT Gears Up for First Ever USV Transatlantic Crossing; Sea-Kit Completes Unmanned Survey Voyage in N. Atlantic
  6. Wikimedia Commons — Peluncuran REMUS, AUV Fest 2007; Peresmian Sea Hunter, 2016; Saildrone, Misi Arktik NOAA 2019

Artikel Terkait

Sistem Positioning dalam Survei Laut: Dari Satelit GPS hingga Transponder Dasar Laut
Positioning System

Sistem Positioning dalam Survei Laut: Dari Satelit GPS hingga Transponder Dasar Laut

9 April 2024 · 10 min read

Acoustic Doppler Current Profiler: Mengukur Arus, Bukan Kedalaman
ADCP

Acoustic Doppler Current Profiler: Mengukur Arus, Bukan Kedalaman

19 November 2025 · 8 min read

Peran Marine Geophysicist: Mengubah Sinyal Jadi Keputusan
Marine Geophysicist

Peran Marine Geophysicist: Mengubah Sinyal Jadi Keputusan

24 Juli 2024 · 10 min read

Siap Memulai Proyek Anda?

Konsultasikan kebutuhan survei dan pengolahan data Anda bersama tim ahli Sonarfix. Kami siap memberikan solusi terbaik.