Platform & Operasi Survei
Survei Bawah Es: Memetakan Dasar Laut yang Tak Bisa Dicek dengan Muncul ke Permukaan
Semua survei autonomous underwater vehicle lain dalam seri artikel ini punya satu jaring pengaman: begitu error navigasi menumpuk terlalu jauh, wahana tinggal muncul ke permukaan, mengambil fix GPS, dan mengoreksi posisinya sendiri. Di bawah lapisan es, jaring pengaman itu tidak ada. Tidak ada celah air terbuka yang menunggu di atas kepala — yang ada hanya langit-langit padat yang tak bisa ditembus wahana, dan kalau dead reckoning-nya melenceng cukup jauh, wahana bahkan bisa gagal menemukan jalan kembali ke satu-satunya lubang tempat ia diturunkan. Survei bawah es pada dasarnya adalah pekerjaan AUV yang kehilangan mekanisme pemulihan kegagalan yang paling sering diandalkan, dan seluruh disiplin ilmunya dibangun untuk mengompensasi kekurangan itu.
Masalah yang Tak Dimiliki Survei AUV Lainnya
Di perairan terbuka, estimasi posisi dead-reckoning sebuah AUV — yang disusun dari heading, kecepatan, dan waktu yang berlalu — makin melenceng seiring waktu kalau tidak dikoreksi, dan justru itulah alasan AUV rutin muncul ke permukaan untuk mengambil fix satelit. Di lingkungan tertutup es yang GPS-nya sama sekali tak terjangkau, koreksi semacam itu absen sepanjang durasi misi di bawah lapisan es. Error navigasi yang terus menumpuk dalam kondisi ini bukan cuma menurunkan kualitas data; tanpa fix posisi akustik yang andal dari referensi eksternal, wahana bisa, meminjam istilah para peneliti yang menggeluti masalah ini, menjadi "semakin tersesat" — kategori risiko yang benar-benar berbeda dibanding jejak GPS yang melenceng di perairan terbuka.
Titik Awal: Wahana yang Diturunkan Lewat Lubang di Es
Wahana bawah-es pertama yang benar-benar dirancang khusus untuk tugas itu adalah Unmanned Arctic Research Submersible (UARS), dikembangkan oleh Applied Physics Laboratory milik University of Washington dan diturunkan di bawah Fletcher's Ice Island dekat Kutub Utara mulai musim semi 1972, setelah lebih dulu diuji coba di Danau Washington. UARS dirating hingga kedalaman 450 meter dengan daya tahan 12 jam, berbobot 410 kilogram, dan harus diturunkan lewat lubang selebar 4 meter yang dipotong di es laut menggunakan gantry. Sistem navigasi dan komunikasinya berupa jaringan akustik long-baseline (LBL) 50 kHz, terdiri dari empat transducer yang mengapung bebas dan diturunkan lewat es di dekat titik peluncuran — nenek moyang langsung dari jaringan positioning akustik yang masih dipakai di bawah es sampai sekarang.
Navigasi bawah-es modern masih bertumpu pada gagasan inti yang sama — ranging akustik dari titik referensi tetap atau semi-tetap — tapi kini dilapisi jauh lebih banyak lapisan pendukung. Sistem long-baseline sekarang lazim dipadukan dengan Doppler velocity log untuk kecepatan bottom-track dan inertial navigation system untuk dead-reckoning di antara fix-fix akustik, sehingga error posisi tumbuh sebanding jarak tempuh, bukan sekadar menumpuk seiring waktu yang berlalu. Sistem yang lebih baru mengganti transponder dasar laut yang tetap dengan pelampung yang dibekukan di dalam es atau dibor menembus es, membawa modem akustik yang mentrilaterasi posisi wahana dari waktu tempuh satu arah, dengan model yang mengoreksi profil kecepatan suara aktual kolom air secara real time, bukan mengasumsikannya konstan.
Studi Kasus: Dua Belas Hari, Seribu Kilometer, dan Sebuah Klaim Hukum
Pada Maret dan April 2010, sebuah AUV kelas Explorer buatan International Submarine Engineering, dioperasikan untuk Natural Resources Canada, menghabiskan 12 hari berturut-turut di bawah es Arktik dan menyurvei hampir 1.000 kilometer jalur sebelum diangkat kembali — penurunan yang saat itu mencetak rekor. Misi ini bukan semata untuk kepentingan sains: data batimetri yang dikumpulkan mendukung pengajuan Kanada untuk memperluas klaim landas kontinennya di bawah UN Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), sebuah proses yang bergantung persis pada jenis data kedalaman dan bentuk dasar laut yang tak mungkin dikumpulkan satelit maupun kapal permukaan di bawah tutupan es permanen. Penurunan 2010 ini melanjutkan langsung pekerjaan Kanada sebelumnya: dari 1993 sampai 1996, AUV Theseus, dikembangkan lewat program "Spinnaker" milik Defence Research and Development Canada, sudah lebih dulu menuntaskan dua misi bawah-es sejauh 200 kilometer yang diluncurkan dari CFS Alert di Pulau Ellesmere, membuktikan bahwa misi jarak jauh tanpa GPS di bawah es Arktik sebetulnya sudah bisa dilakukan jauh sebelum sensor dan sistem navigasi yang memadai tersedia untuk menjalankannya secara rutin.
Studi Kasus: Enam Puluh Kilometer ke Dalam Rongga Ice Shelf
Pada Januari 2009, British Antarctic Survey bersama National Oceanography Centre Southampton menurunkan AUV Autosub3 — wahana sepanjang 7 meter berbobot 3,5 ton, dirating hingga kedalaman 1.600 meter dan ditenagai sekitar 5.000 baterai D-cell — ke bawah ice shelf terapung Pine Island Glacier di Antartika Barat. Lewat enam misi dengan total jalur lebih dari 500 kilometer dan waktu operasi sekitar 94 jam, Autosub3 menembus hingga 60 kilometer ke dalam rongga di bawah es, jauh melampaui jangkauan kapal atau satelit mana pun, memakai multibeam sonar onboard untuk memetakan sisi bawah ice shelf sekaligus dasar laut di bawahnya secara bersamaan. Survei ini mengungkap punggungan (ridge) dasar laut yang sebelumnya tak diketahui, terletak kira-kira di tengah antara front es dan grounding line, dengan puncaknya berada sekitar 700 meter di bawah permukaan laut — fitur yang kini dipahami turut memengaruhi sejarah mundurnya gletser tersebut. Misi ini menghasilkan data yang, menurut penuturan para peneliti saat itu, setara sekitar 90% dari seluruh data yang pernah dikumpulkan AUV di bawah ice shelf mana pun — dari rongga yang tak mungkin dimasuki kapal apa pun.
Disiplin yang Didefinisikan oleh Apa yang Tak Bisa Dilakukannya
Lima puluh tahun setelah UARS diturunkan lewat lubang di es dekat Kutub Utara, kendala intinya tidak berubah: wahana di bawah es harus tahu posisinya sendiri tanpa pernah bisa mengeceknya lewat satelit, dan ia harus kembali ke titik keluar yang sudah diketahui tanpa pengecekan yang sama itu. Yang berubah adalah seberapa banyak redundansi yang kini dibangun para engineer di sekitar satu kendala tunggal itu — jaringan akustik, bantuan inersial, bottom-tracking Doppler, dan koreksi kecepatan suara real-time, ditumpuk bersama justru karena tak satu pun dari sistem-sistem itu, sendirian, cukup dipercaya untuk membawa sebuah misi menembus 60 kilometer lautan bertutup es dan kembali lagi dengan selamat.
References
- British Antarctic Survey, "Robot Submarine Searches for Signs of Melting Under Antarctic Ice Shelf," https://www.bas.ac.uk/news/robot-submarine-searches-for-signs-of-melting-under-antarctic-ice-shelf/
- "12 Days Under Ice – An Historic AUV Deployment in the Canadian High Arctic," IEEE/OES Autonomous Underwater Vehicles Conference, 2010, https://ieeexplore.ieee.org/document/5779651/
- Randeni, S.A. et al., "A High-Resolution AUV Navigation Framework with Integrated Communication and Tracking for Under-Ice Deployments," Journal of Field Robotics, 2023, https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/rob.22133
- Jakuba, M.V. et al., "Long-Baseline Acoustic Navigation for Under-Ice Autonomous Underwater Vehicle Operations," MIT, https://web.mit.edu/2.166/www/handouts/jakuba_fsr08_submission.pdf
- "Unmanned Underwater Vehicles in Arctic Operations," ResearchGate, https://www.researchgate.net/publication/330703330_Unmanned_underwater_vehicles_in_Arctic_operations
Artikel Terkait