Geofisika & Geohazard

Survei UXO di Offshore Windfarm: Menemukan Jejak Perang yang Masih Terkubur

Delapan dekade lalu, sebagian besar dasar laut North Sea yang kini disulap menjadi Offshore Windfarm pernah menjadi ladang ranjau sekaligus area pengeboman. Sebelum satu monopile pun bisa ditancapkan ke dasar laut itu, tim survei harus lebih dulu menemukan setiap sisa amunisi tak meledak (unexploded ordnance/UXO) peninggalan dua perang dunia yang masih terkubur di sana — lalu memastikan, objek demi objek, benda apa sebenarnya itu sebelum diputuskan perlu dipindahkan, dihindari, atau dimusnahkan di tempat.

Diagram berbagai jenis ranjau laut: ranjau hanyut, ranjau tambat, ranjau dasar, torpedo/CAPTOR, dan konfigurasi ranjau timbul
Amunisi tak meledak yang ditemukan di lokasi Offshore Windfarm sangat beragam — mulai dari ranjau tambat dan ranjau dasar, depth charge, hingga ranjau udara yang dijatuhkan dengan parasut. Masing-masing punya karakteristik akustik dan magnetik yang berbeda, dan semuanya harus bisa dikenali oleh tim survei. Sumber: Wikimedia Commons, "Types of Naval mine 001.svg" oleh Los688 (Public Domain).

Mengapa Metode Deteksinya Hampir Selalu Mengandalkan Magnet

Survei UXO lepas pantai dibangun di atas dataset magnetometer atau gradiometer, biasanya didukung side-scan sonar, multibeam, dan kadang sub-bottom profiler beresolusi tinggi. Magnetometri jadi andalan utama karena alasan fisis yang sederhana: benda ferromagnetik yang berada di atas atau terkubur dalam dasar laut mendistorsi medan magnet Bumi secara lokal, dan besar-kecilnya distorsi itu — baik amplitudo maupun sebarannya secara horizontal — bergantung pada massa, bentuk, serta sifat magnetik benda tersebut, dan jaraknya dari sensor. Amunisi yang terkubur di bawah sedimen tak akan terlihat oleh sonar maupun kamera, tapi magnetometri tetap bisa mengendus keberadaannya — inilah yang membuatnya menjadi satu-satunya metode yang mampu menangkap target yang sepenuhnya luput dari instrumen akustik.

Namun mendapatkan sinyal yang bersih dari prinsip fisika ini bukan cuma soal sensor — persoalan positioning-nya sama pentingnya. Lintasan survei harus dijalankan sebagai garis-garis paralel yang jaraknya hanya beberapa meter satu sama lain, dan ketinggian sensor magnetik di atas dasar laut mesti dijaga ketat serta dicatat terus-menerus — biasanya diterbangkan pada ketinggian kurang dari empat meter, memakai altimeter dan depth sensor untuk kendali ketinggian aktif secara langsung, sementara seluruh array diposisikan dengan wide-area differential GPS di permukaan dan pelacakan ultra-short baseline (USBL) di bawah air. Alih-alih memakai satu sensor saja, biasanya beberapa magnetometer ditarik bersamaan agar setiap anomali bisa diurai dan dilokalisasi dengan presisi, bukan sekadar terdeteksi keberadaannya.

Poin Utama: Anomali magnetik hanya memberi tahu tim survei bahwa ada benda ferrous di sana — bukan apa benda itu sebenarnya. Mengubah anomali menjadi target UXO yang terkonfirmasi dan terklasifikasi adalah tahap analisis tersendiri, dan tahap inilah yang menentukan apakah suatu lokasi butuh prosedur pemusnahan yang membutuhkan waktu setidaknya enam bulan atau tidak sama sekali.

Dari Anomali Hingga Target Terkonfirmasi

Teknik inversi modern memodelkan bentuk setiap anomali magnetik untuk memperkirakan ukuran, kedalaman, dan orientasi benda penyebabnya, sehingga analis bisa mengurutkan target berdasarkan seberapa mirip karakteristiknya dengan amunisi yang sudah dikenal — sebelum ada keputusan untuk melakukan investigasi fisik. Langkah klasifikasi ini sudah cukup andal untuk mengubah perhitungan ekonomi sebuah survei: di tiga proyek North Sea — Hornsea Offshore Wind Two milik Ørsted, Borssele I dan II, serta East Anglia ONE milik ScottishPower Renewables — kualitas data yang diperoleh cukup baik sehingga klasifikasi bisa dilakukan untuk sebagian besar target. Khusus di Hornsea Two, seluruh 190 target yang disurvei berhasil diklasifikasikan tanpa perlu penyelaman fisik atau inspeksi ROV satu per satu.

Studi Kasus: Pembersihan Situs Inch Cape

Offshore Windfarm Inch Cape di lepas pantai Skotlandia menjalankan prosedur UXO pra-konstruksi selama enam bulan, mencakup area array seluas 150 kilometer persegi dan koridor kabel ekspor sepanjang 85 kilometer. Proses survei dan investigasi berhasil mengidentifikasi 395 target UXO potensial, dan 86 di antaranya terkonfirmasi sebagai amunisi sungguhan — campuran proyektil, senjata anti-kapal selam, ranjau laut apung buatan Inggris, depth charge, dan ranjau parasut Luftmine B buatan Jerman. Kombinasi bahaya semacam ini wajar ditemukan di situs North Sea yang terdampak sisa-sisa dua perang dunia sekaligus. Dari 86 item terkonfirmasi tersebut, 38 di antaranya harus dimusnahkan secara aktif agar jalur konstruksi aman; sisanya cukup dihindari atau dibiarkan tak terusik. Prosedur pemusnahan ini rampung pada Oktober 2025, membuka jalan bagi pemasangan fondasi monopile yang dijadwalkan Desember 2025.

Turbin angin lepas pantai di Block Island Wind Farm, lepas pantai Rhode Island
Setiap titik fondasi dan jalur kabel Offshore Windfarm harus dinyatakan bebas risiko UXO sebelum konstruksi dimulai — proses yang berlangsung berbulan-bulan dan direncanakan sebagai fase proyek tersendiri sebelum pemancangan tiang. Sumber: Wikimedia Commons, foto oleh Alex DeCiccio (CC BY-SA 4.0).

Memutuskan Cara Memusnahkan Target yang Berbahaya

Setelah amunisi/UXO terkonfirmasi, metode pemusnahannya sendiri membawa trade-off risiko tersendiri. Detonasi high-order konvensional — menempatkan bahan peledak donor di samping target lalu meledakkannya bersamaan — memang efektif menghancurkan amunisi, tapi menghasilkan tingkat kebisingan bawah air yang tinggi dan berpotensi melukai atau membunuh mamalia laut serta fauna lain, termasuk kerusakan organ dan pecahnya rongga berisi gas seperti pada sistem pendengaran. Deflagrasi low-order, metode yang dipakai di Inch Cape lewat Cobra System (salah satu dari hanya dua sistem pemusnahan UXO yang diakui Pemerintah Inggris untuk keperluan ini), justru menyulut dan membakar habis muatan peledak secara terkendali tanpa detonasi penuh. Perbandingan di lapangan menunjukkan deflagrasi low-order menghasilkan tekanan suara puncak dan tingkat paparan suara sekitar 20 desibel lebih rendah dibanding detonasi high-order pada target yang sama.

Di Mana Peran Bubble Curtain

Bubble curtain — udara bertekanan yang dipompa lewat selang di dasar laut untuk membentuk tirai gelembung naik di sekeliling lokasi detonasi — kadang dipasang untuk meredam kebisingan lebih lanjut, biasanya mampu menekan lagi sekitar 5 hingga 10 desibel. Rekam jejaknya paling kuat untuk meredam kebisingan pemancangan tiang; bukti efektivitasnya khusus untuk pemusnahan UXO masih terbatas dan sebagian besar baru diuji di perairan dangkal, di bawah kedalaman sekitar 30 meter. Setiap pemusnahan, baik high-order maupun low-order, juga memerlukan izin tersendiri dan harus dijadwalkan agar tidak bertabrakan dengan aktivitas bising lain di lokasi, seperti pemancangan tiang, supaya mamalia laut tidak pernah terpapar dua peristiwa kebisingan besar sekaligus.

Fase Survei dengan Jadwalnya Sendiri

Prosedur UXO bukan sekadar pengecekan cepat yang diselipkan pada survei geofisika — di Inch Cape, durasinya sama panjangnya dengan banyak survei karakterisasi situs secara keseluruhan, dan harus rampung berbulan-bulan sebelum monopile pertama bisa ditancapkan ke air. Bagi pengembang Offshore Windfarm, jadwal semacam ini kini menjadi masukan perencanaan yang sama pentingnya dengan data sumber daya angin atau jadwal koneksi jaringan listrik: dasar laut harus dibuktikan bersih, target demi target, sebelum risiko konstruksi bisa disetujui.


Referensi

  1. Applied Acoustics, "What are UXO surveys? Marine Glossary," https://www.appliedacoustics.com/glossary/what-are-uxo-surveys/
  2. "Inverse modelling and classification of magnetic responses to improve marine unexploded ordnance rationalization," Geophysical Journal International, Oxford Academic, https://academic.oup.com/gji/article/237/1/123/7601866
  3. Inch Cape Offshore Limited, "Offshore Unexploded Ordnance Disposal Works Complete," https://www.inchcapewind.com/offshore-unexploded-ordnance-disposal-works-complete/
  4. Ocean Winds, "Low Order Deflagration of Unexploded Ordnance Reduces Environmental Impact" (Business Case), https://oceanwinds.com/wp-content/uploads/2024/05/OW-UXO-BusinessCase.pdf
  5. Joint Nature Conservation Committee (JNCC), "Marine Mammals and Noise Mitigation," https://jncc.gov.uk/our-work/marine-mammals-and-noise-mitigation/
  6. "In-situ Comparison of High-Order Detonations and Low-Order Deflagration Methodologies for Underwater Unexploded Ordnance (UXO) Disposal," Tethys / Marine Pollution Bulletin, https://tethys.pnnl.gov/publications/situ-comparison-high-order-detonations-low-order-deflagration-methodologies-underwater

Artikel Terkait

Aplikasi Marine Magnetometer dan Gradiometer
Magnetometer & Gradiometer

Aplikasi Marine Magnetometer dan Gradiometer: Instrumen yang Melihat Besi, Bukan Bentuk

16 November 2023 · 9 min read

Geohazard dalam Konstruksi Laut
Geohazard Assessment

Geohazard dalam Konstruksi Laut: Mengapa Sebaiknya Kegiatan Engineering Diawali dengan Survei

22 Januari 2024 · 11 min read

Aplikasi Side-Scan Sonar dalam Survei Bawah Laut
Side-Scan Sonar

Aplikasi Side-Scan Sonar: Dari Pemetaan Dasar Laut hingga Pencarian Kapal Karam

12 Juli 2023 · 7 min read

Siap Memulai Proyek Anda?

Konsultasikan kebutuhan survei dan pengolahan data Anda bersama tim ahli Sonarfix. Kami siap memberikan solusi terbaik.