Geofisika & Geohazard
Survei UXO di Offshore Windfarm: Menemukan Jejak Perang yang Masih Terkubur
Delapan dekade lalu, sebagian besar dasar laut North Sea yang kini disulap menjadi Offshore Windfarm pernah menjadi ladang ranjau sekaligus area pengeboman. Sebelum satu monopile pun bisa ditancapkan ke dasar laut itu, tim survei harus lebih dulu menemukan setiap sisa amunisi tak meledak (unexploded ordnance/UXO) peninggalan dua perang dunia yang masih terkubur di sana — lalu memastikan, objek demi objek, benda apa sebenarnya itu sebelum diputuskan perlu dipindahkan, dihindari, atau dimusnahkan di tempat.
Mengapa Metode Deteksinya Hampir Selalu Mengandalkan Magnet
Survei UXO lepas pantai dibangun di atas dataset magnetometer atau gradiometer, biasanya didukung side-scan sonar, multibeam, dan kadang sub-bottom profiler beresolusi tinggi. Magnetometri jadi andalan utama karena alasan fisis yang sederhana: benda ferromagnetik yang berada di atas atau terkubur dalam dasar laut mendistorsi medan magnet Bumi secara lokal, dan besar-kecilnya distorsi itu — baik amplitudo maupun sebarannya secara horizontal — bergantung pada massa, bentuk, serta sifat magnetik benda tersebut, dan jaraknya dari sensor. Amunisi yang terkubur di bawah sedimen tak akan terlihat oleh sonar maupun kamera, tapi magnetometri tetap bisa mengendus keberadaannya — inilah yang membuatnya menjadi satu-satunya metode yang mampu menangkap target yang sepenuhnya luput dari instrumen akustik.
Namun mendapatkan sinyal yang bersih dari prinsip fisika ini bukan cuma soal sensor — persoalan positioning-nya sama pentingnya. Lintasan survei harus dijalankan sebagai garis-garis paralel yang jaraknya hanya beberapa meter satu sama lain, dan ketinggian sensor magnetik di atas dasar laut mesti dijaga ketat serta dicatat terus-menerus — biasanya diterbangkan pada ketinggian kurang dari empat meter, memakai altimeter dan depth sensor untuk kendali ketinggian aktif secara langsung, sementara seluruh array diposisikan dengan wide-area differential GPS di permukaan dan pelacakan ultra-short baseline (USBL) di bawah air. Alih-alih memakai satu sensor saja, biasanya beberapa magnetometer ditarik bersamaan agar setiap anomali bisa diurai dan dilokalisasi dengan presisi, bukan sekadar terdeteksi keberadaannya.
Dari Anomali Hingga Target Terkonfirmasi
Teknik inversi modern memodelkan bentuk setiap anomali magnetik untuk memperkirakan ukuran, kedalaman, dan orientasi benda penyebabnya, sehingga analis bisa mengurutkan target berdasarkan seberapa mirip karakteristiknya dengan amunisi yang sudah dikenal — sebelum ada keputusan untuk melakukan investigasi fisik. Langkah klasifikasi ini sudah cukup andal untuk mengubah perhitungan ekonomi sebuah survei: di tiga proyek North Sea — Hornsea Offshore Wind Two milik Ørsted, Borssele I dan II, serta East Anglia ONE milik ScottishPower Renewables — kualitas data yang diperoleh cukup baik sehingga klasifikasi bisa dilakukan untuk sebagian besar target. Khusus di Hornsea Two, seluruh 190 target yang disurvei berhasil diklasifikasikan tanpa perlu penyelaman fisik atau inspeksi ROV satu per satu.
Studi Kasus: Pembersihan Situs Inch Cape
Offshore Windfarm Inch Cape di lepas pantai Skotlandia menjalankan prosedur UXO pra-konstruksi selama enam bulan, mencakup area array seluas 150 kilometer persegi dan koridor kabel ekspor sepanjang 85 kilometer. Proses survei dan investigasi berhasil mengidentifikasi 395 target UXO potensial, dan 86 di antaranya terkonfirmasi sebagai amunisi sungguhan — campuran proyektil, senjata anti-kapal selam, ranjau laut apung buatan Inggris, depth charge, dan ranjau parasut Luftmine B buatan Jerman. Kombinasi bahaya semacam ini wajar ditemukan di situs North Sea yang terdampak sisa-sisa dua perang dunia sekaligus. Dari 86 item terkonfirmasi tersebut, 38 di antaranya harus dimusnahkan secara aktif agar jalur konstruksi aman; sisanya cukup dihindari atau dibiarkan tak terusik. Prosedur pemusnahan ini rampung pada Oktober 2025, membuka jalan bagi pemasangan fondasi monopile yang dijadwalkan Desember 2025.
Memutuskan Cara Memusnahkan Target yang Berbahaya
Setelah amunisi/UXO terkonfirmasi, metode pemusnahannya sendiri membawa trade-off risiko tersendiri. Detonasi high-order konvensional — menempatkan bahan peledak donor di samping target lalu meledakkannya bersamaan — memang efektif menghancurkan amunisi, tapi menghasilkan tingkat kebisingan bawah air yang tinggi dan berpotensi melukai atau membunuh mamalia laut serta fauna lain, termasuk kerusakan organ dan pecahnya rongga berisi gas seperti pada sistem pendengaran. Deflagrasi low-order, metode yang dipakai di Inch Cape lewat Cobra System (salah satu dari hanya dua sistem pemusnahan UXO yang diakui Pemerintah Inggris untuk keperluan ini), justru menyulut dan membakar habis muatan peledak secara terkendali tanpa detonasi penuh. Perbandingan di lapangan menunjukkan deflagrasi low-order menghasilkan tekanan suara puncak dan tingkat paparan suara sekitar 20 desibel lebih rendah dibanding detonasi high-order pada target yang sama.
Di Mana Peran Bubble Curtain
Bubble curtain — udara bertekanan yang dipompa lewat selang di dasar laut untuk membentuk tirai gelembung naik di sekeliling lokasi detonasi — kadang dipasang untuk meredam kebisingan lebih lanjut, biasanya mampu menekan lagi sekitar 5 hingga 10 desibel. Rekam jejaknya paling kuat untuk meredam kebisingan pemancangan tiang; bukti efektivitasnya khusus untuk pemusnahan UXO masih terbatas dan sebagian besar baru diuji di perairan dangkal, di bawah kedalaman sekitar 30 meter. Setiap pemusnahan, baik high-order maupun low-order, juga memerlukan izin tersendiri dan harus dijadwalkan agar tidak bertabrakan dengan aktivitas bising lain di lokasi, seperti pemancangan tiang, supaya mamalia laut tidak pernah terpapar dua peristiwa kebisingan besar sekaligus.
Fase Survei dengan Jadwalnya Sendiri
Prosedur UXO bukan sekadar pengecekan cepat yang diselipkan pada survei geofisika — di Inch Cape, durasinya sama panjangnya dengan banyak survei karakterisasi situs secara keseluruhan, dan harus rampung berbulan-bulan sebelum monopile pertama bisa ditancapkan ke air. Bagi pengembang Offshore Windfarm, jadwal semacam ini kini menjadi masukan perencanaan yang sama pentingnya dengan data sumber daya angin atau jadwal koneksi jaringan listrik: dasar laut harus dibuktikan bersih, target demi target, sebelum risiko konstruksi bisa disetujui.
Referensi
- Applied Acoustics, "What are UXO surveys? Marine Glossary," https://www.appliedacoustics.com/glossary/what-are-uxo-surveys/
- "Inverse modelling and classification of magnetic responses to improve marine unexploded ordnance rationalization," Geophysical Journal International, Oxford Academic, https://academic.oup.com/gji/article/237/1/123/7601866
- Inch Cape Offshore Limited, "Offshore Unexploded Ordnance Disposal Works Complete," https://www.inchcapewind.com/offshore-unexploded-ordnance-disposal-works-complete/
- Ocean Winds, "Low Order Deflagration of Unexploded Ordnance Reduces Environmental Impact" (Business Case), https://oceanwinds.com/wp-content/uploads/2024/05/OW-UXO-BusinessCase.pdf
- Joint Nature Conservation Committee (JNCC), "Marine Mammals and Noise Mitigation," https://jncc.gov.uk/our-work/marine-mammals-and-noise-mitigation/
- "In-situ Comparison of High-Order Detonations and Low-Order Deflagration Methodologies for Underwater Unexploded Ordnance (UXO) Disposal," Tethys / Marine Pollution Bulletin, https://tethys.pnnl.gov/publications/situ-comparison-high-order-detonations-low-order-deflagration-methodologies-underwater
Artikel Terkait