Oseanografi
Survei Lokasi Akuakultur Lepas Pantai: Bagaimana Menemukan Perairan yang Benar-Benar Layak untuk Budidaya Ikan
Kebanyakan survei yang dibahas dalam seri ini bertujuan mencari bahaya atau memetakan dasar laut sebelum sesuatu dibangun di atasnya. Survei lokasi untuk akuakultur lepas pantai mengajukan pertanyaan yang berbeda: bukan "apakah lokasi ini aman untuk dibangun," melainkan "apakah ikan, kerang, atau rumput laut bisa benar-benar tumbuh subur di sini, selama bertahun-tahun, tanpa merusak kualitas air di sekitarnya." Perbedaan ini menentukan instrumen apa yang dipakai dan bagaimana data hasilnya digunakan — baik oleh operator keramba maupun, yang semakin sering terjadi, oleh regulator yang memutuskan apakah izin akan diberikan sama sekali.
Kedalaman dan Arus: Dua Angka yang Tidak Bisa Dipisahkan
Panduan pemilihan lokasi untuk akuakultur laut lepas tidak memberi angka pasti, melainkan rentang — karena kedalaman yang tepat bergantung pada kekuatan arus yang melewatinya, dan sebaliknya. Produsen skala kecil masih bisa bekerja di kedalaman 5 sampai 20 meter; panduan operasional yang lebih umum melebarkan rentang itu menjadi 10 sampai 30 meter; sementara untuk sistem keramba berukuran besar, faktor penentunya justru sistem penambatan (mooring) — salah satu acuan minimum yang banyak dipakai untuk penambatan keramba besar secara aman adalah sekitar 36,5 meter, sedangkan kedalaman di atas 50 meter membuat biaya dan kerumitan penambatan melonjak tajam. Kecepatan arus juga punya rentang kerjanya sendiri, kira-kira 0,2 sampai 1,5 knot: terlalu lambat, sisa pakan dan kotoran menumpuk di bawah keramba alih-alih terurai dan menyebar; terlalu kencang, ikan menghabiskan energi ekstra hanya untuk menahan posisi, sementara beban pada sistem penambatan ikut membesar. Survei yang hanya mengukur kedalaman tanpa arus, atau arus tanpa kedalaman, cuma menjawab separuh dari pertanyaan penentuan lokasi.
Apa Sebenarnya Isi Survei Baseline Lingkungan Itu
Dalam praktik perizinan federal Amerika Serikat, pekerjaan ini dibakukan sebagai Baseline Environmental Survey (BES) — syarat wajib sebelum operator bahkan bisa mengajukan izin pembuangan (discharge) dan izin habitat yang dibutuhkan sebuah keramba. BES bukan satu jenis pengukuran saja, melainkan gabungan beberapa pekerjaan: survei dasar laut memakai side-scan sonar, sub-bottom profiling, dan magnetometer untuk memetakan karakter seabed serta memastikan tidak ada obstruksi atau area bernilai arkeologi; pengukuran hidrografi dan oseanografi yang mencakup kecepatan dan arah arus di sepanjang kolom air; serta pengambilan sampel kualitas air dan sedimen untuk membangun kondisi baseline sebelum keramba dibangun, yang nantinya jadi pembanding bagi hasil pemantauan berikutnya. Poin terakhir ini sama pentingnya dengan data penentuan lokasi secara fisik: regulator umumnya mewajibkan pemohon izin untuk terus mengambil sampel kualitas air, sedimen, dan kondisi bentik — baik di lokasi acuan (background) maupun di sekitar keramba — dengan frekuensi yang disesuaikan dengan jumlah biomassa ikan di air tersebut. Artinya, "survei" ini tidak berhenti begitu izin diterbitkan; ia terus berjalan sepanjang umur operasional keramba.
Studi Kasus: Dari Proyek Percontohan Kecil sampai Perizinan Delapan Tahun
Dua proyek dari perusahaan yang sama asal Hawaii, dengan jarak waktu sekitar satu dekade, memperlihatkan betapa beratnya beban survei dan perizinan ini berkembang. Antara 2011 dan 2014, Ocean Era (saat itu masih bernama Kampachi Farms) menjalankan proyek percontohan Velella Beta dan Velella Gamma di lepas pantai Kona, Hawaii — rangkaian keramba jaring kecil di dekat pantai yang, sebagai efek sampingnya, berfungsi sebagai alat pengumpul ikan (fish-aggregating device) yang digemari komunitas nelayan setempat, sampai akhirnya dinobatkan sebagai salah satu Best Inventions 2012 versi TIME Magazine. Proyek besar berikutnya dari perusahaan ini, Velella Epsilon, adalah satu keramba jaring tunggal sekitar 40 mil di lepas pantai Teluk Meksiko, direncanakan untuk membudidayakan sekitar 20.000 ekor ikan red drum dalam setahun — skala produksi yang di atas kertas tergolong sederhana, tapi tetap membutuhkan Baseline Environmental Survey lengkap dengan side-scan sonar, sub-bottom profiling, magnetometer, dan pengukuran hidrografi, diikuti Environmental Assessment, Essential Fish Habitat Assessment, dan Ocean Discharge Criteria Evaluation, sebelum akhirnya EPA menerbitkan izin pembuangan NPDES final dengan status Finding of No Significant Impact pada September 2020. Bahkan setelah itu, izin-izin lain yang masih dibutuhkan sebelum konstruksi bisa benar-benar dimulai baru selesai pada 2026 — proses delapan tahun dari pengajuan pertama sampai lampu hijau diberikan, untuk proyek yang nantinya menjadi akuakultur ikan bersirip laut lepas pertama yang mendapat izin di perairan federal Amerika Serikat.
Menyaring Lokasi Sebelum Ada yang Mengajukan Izin
Sebagian sebagai respons atas proses perizinan panjang seperti kasus di atas, NOAA mulai melakukan penyaringan lokasi berskala besar lebih dulu, sebelum ada operator perorangan yang mengajukan aplikasi. Program Aquaculture Opportunity Area (AOA) milik lembaga ini menjalankan analisis kesesuaian berbasis GIS lintas lebih dari 200 lapisan data spasial — mulai dari batimetri dan arus sampai jalur pelayaran, area penangkapan ikan, dan kawasan lindung — untuk mengidentifikasi lebih dulu wilayah yang berpotensi layak secara lingkungan, sosial, dan ekonomi untuk akuakultur. Sejauh ini analisis tersebut sudah mengusulkan sembilan wilayah di Teluk Meksiko dan sepuluh wilayah di Southern California Bight, masing-masing seluas 500 sampai 2.000 acre, dengan tujuan memberi calon pemohon izin modal awal untuk menjawab pertanyaan kesesuaian lokasi yang biasanya harus dijawab dari nol lewat BES penuh.
Kerangka Kerja di Balik Angka-Angka Ini
Di level internasional, FAO membingkai persoalan penentuan lokasi yang sama ini lewat konsep daya dukung ekologis, dalam kerangka Ecosystem Approach to Aquaculture — gagasan bahwa survei lokasi seharusnya tidak hanya menjawab apakah suatu tempat secara fisik bisa menampung keramba, tapi juga berapa banyak produksi yang bisa ditampung perairan sekitar tanpa membuat kondisinya menurun. Cara pandang inilah yang membuat survei lokasi akuakultur lepas pantai modern makin jauh dari sekadar karakterisasi satu kali — ia lebih mirip bab pembuka dari sebuah program pemantauan yang berjalan sepanjang umur operasional keramba. Data batimetri dan arus menentukan di mana keramba ditempatkan, dan instrumen yang sama, diulang secara berkala, yang kemudian menentukan apakah lokasi itu masih layak dipakai di kemudian hari.
Referensi
- Frontiers in Aquaculture — Site Selection for Aquaculture of Extractive Species in Open Ocean Environments: A Systematic Review
- Marine Technology Society Journal — Site Selection Criteria for Open Ocean Aquaculture
- U.S. EPA — Ocean Era, Inc. — Velella Epsilon Aquatic Animal Production Facility NPDES Permit
- SeafoodSource — US Army Corps of Engineers Will Hear Public Comment on Velella Epsilon
- Perishable News — After 8 Years, Final Permit Issued for Gulf Offshore Aquaculture Demonstration Project
- NOAA Fisheries — Aquaculture Opportunity Areas
- NOAA — NOAA Analyses to Inform Aquaculture Siting in Gulf of Mexico and Southern California
- FAO — Chapter 1: Considerations in the Selection of Sites for Aquaculture
Artikel Terkait